• Imagen 1 Peta Indonesia
    Berjajar pualu pulau sambung menyambung menjadi satu !

7 Star's Pharmacist

1. Care Giver
2. Decision Maker (Pembuat keputusan)
3. Comunicator
     Jembatan hubungan antara dokter dan pasien.
4.  Leader / Manager
     Mengelola sumber daya manusia.
5. Life Long Learner
6. Teacher

7. Reseacher


apotik-s7.blogspot.com
Read more! - 7 Star's Pharmacist

Sperma yang berkualitas

Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahasa Yunani kuno: σπέρμα yang berarti benih, dan ζῷον yang berarti makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio.

Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi utama dari laki-laki. Sel sperma memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sel sperma manusia terdiri atas kepala yang berukuran 5 µm x 3 µm dan ekor sepanjang 50 µm. Sel sperma pertama kali diteliti oleh seorang murid dari Antonie van Leeuwenhoek tahun 1677 (Wikipedia).

Berdasar Foxnews, Sabtu (4/12/2010) Dr David Shin, kepala pusat kesehatan seksual dan fertilitas di departemen urologi dari Hackensack University Medical Center di New Jersey menuturkan beberapa rahasianya:
 
>> Sperma diproduksi di testis dan membutuhkan waktu selama 10 minggu untuk menjadi matang. Sperma yang matang ini bisa menunggu selama dua minggu di daerah yang disebut epididimis (waduk penyimpanan sperma), organ ini berada di atas testis.
Berat dari sperma manusia sebesar 55 mikron (mikrometer atau sepersejuta meter).

>> Sperma ini sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'biji atau benih', yang hanya bisa berenang maju dan tidak bisa mundur.
 
>> Bentuk sperma yang normal memiliki kepala dan ekor, sedangkan yang abnormal memiliki dua kepala atau dua ekor.
 
>> Laki-laki yang sehat akan memproduksi 70-150 juta sperma per hari. Sperma ini terdapat dalam air mani yang mana rata-rata volume air mani normal yang dihasilkan pada ejakulasi adalah 2-5 ml (setengah sampai 1 sendok makan ukuran Inggris).

>> Dari setiap cairan semen (air mani) hanya terdapat sperma sebanyak 5 persen. Kebanyakan cairan semen ini terdiri dari cairan yang memberikan nutrisi serta menjadi pelindung pada saat sperma masuk melalui saluran reproduksi perempuan.

>> Sperma bisa bergerak rata-rata sejauh 1-4 milimeter per menit. Untuk menempuh perjalanan menuju sel telur di dua tabung falopi, sperma membutuhkan waktu 45 menit - 3 jam.
 
>> Dari sperma yang keluar saat ejakulasi, hanya sekitar 25-50 persen saja yang bisa bergerak maju dengan baik, dan terkadang ada sperma yang membutuhkan waktu selama 3 hari untuk mencapai sel telur. Sperma yang sudah masuk ini bisa bertahan hidup sampai 5 hari di dalam rahim perempuan. Kondisi ini membuat seseorang bisa hamil setelah beberapa hari melakukan hubungan seksual.
 
>> Sperma ini mengandung Y dan X, sperma Y untuk membuat anak laki-laki dan berenang lebih cepat karena beratnya lebih sedikit dibanding sperma X (untuk membuat anak perempuan).
 
>> Untuk meningkatkan pergerakan dari sperma agar bisa berenang dengan cepat dan baik adalah mengonsumsi banyak buah-buahan dan sayuran, mengurangi stres, berolahraga secara teratur, memperhatikan berat badan, menghindari penggunaan narkoba dan membatasi asupan alkohol.

Sedangkan untuk kualitas sperma yang dikutip dari WebMD, Minggu (9/1/2011), ada 7 indikator sperma yang sehat dan berkualitas.
1. Volume
Dalam satu kali ejakulasi, normalnya penis menyemburkan sperma sekitar 2-6 mililiter. Jika kurang dari angka tersebut, kemungkinan ada masalah dengan kesuburan atau bisa juga disebabkan oleh frekuensi ejakulasi yang terlalu sering (termasuk lewat masturbasi).
2. Waktu pembekuan
Cairan sperma yang kental mengandung protein dan akan menggumpal (koagulasi) jika dibiarkan berada di udara terbuka selama 20-30 menit. Jika tetap cair hingga waktu yang terlalu lama, kemungkinan ada infeksi di saluran kencing.
3. Jumlah sel sperma
Indikator ini tidak bisa diamati dengan mata telanjang, harus diperiksa di bawah mikroskop. Jumlah sel sperma dalam sekali ejakulasi normalnya sekitar 40 juta atau 0 pada pria yang telah menjalani vasektomi. Kurang dari jumlah tersebut bisa dikatakan kurang subur, meski tidak menutup kemungkinan untuk tetap punya anak.
4. Bentuk sperma (morfologi)
Untuk dapat dikatakan sehat, minimal 70 persen sel sperma dalam sekali ejakulasi harus memiliki bentuk ideal. Jika sel sperma yang abnormal terlalu banyak (punya 2 ekor, ekor pendek atau kepalanya kecil), kemampuan pria untuk membuahi pasangannya akan berkurang.
5. Pergerakan sperma (motilitas)
Kualitas sperma dikatakan bagus jika pergerakannya cukup gesit. Minimal 60 persen sel sperma dalam sekali ejakulasi harus menunjukkan gerakan yang cepat, sisanya tidak masalah jika agak lambat.
6. Keasaman (pH)
Cairan sperma dengan pH 7,2 hingga 8,0 merupakan kondisi ideal bagi sel sperma untuk mampu bertahan hidup bergerak dengan pergerakan paling optimal. Kondisi keasaman yang terlalu tinggi atau terlalu rendah bisa membunuh sel sperma.
7. Jumlah sel darah putih
Normalnya keberadaan sel darah putih tidak terdeteksi di dalam cairan sperma. Sel darah putih terdeteksi di urine dan cairan sperma jika terjadi infeksi, sehingga kadang-kadang ditemukan bersama dengan beberapa bakteri penyebab infeksi.

Source from detikHealth
Read more! - Sperma yang berkualitas

Antibiotik | Menimbulkan Alergi

Antibiotik, selain menimbulkan efek samping, ada sejumlah orang yang mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi antibiotika. Kalau sebelumnya seseorang sudah tahu alergi dengan antibiotika tertentu, sudah pasti ia tidak akan diberikan antibiotika tersebut.

Reaksi alergi yang ditimbulkan bisa bermacam-macam. Yang paling sering adalah gatal di kulit atau urtikaria. Yang berbahaya, apabila terjadi edema atau bengkak pada tenggorokan yang membuat seseorang seperti tercekik.

Reaksi lain, ada yang mencetuskan gejala asma, seperti sesak napas. Reaksi serius lainnya adalah sindrom Steven Johnson, yang membuat seluruh permukaan kulit pasien meradang. Bahkan, kemudian timbul vesikel seperti cacar air di seluruh tubuh. Apabila kondisi ini terjadi, pasien harus segera dirawat karena situasinya sudah darurat. Namun, yang paling ekstrem adalah muncul shock anafilaktik hingga berujung pada kematian.

Antibiotika golongan penisilin, disebutkan oleh Dr.J.Hudyono, MS.Sp.Ok, biasanya menimbulkan alergi. Itu sebabnya, para dokter lebih berani memberikan penisilin saat pasien berada di rumah sakit yang memiliki alat untuk kondisi gawat darurat.

Mengingat kemungkinan efek samping, termasuk reaksi alergi dan bahaya resisten, Dr.Hudyono memberikan sejumlah saran sebelum mengonsumsi antibiotika.

  1.  Konsumsi antibiotika sesuai dengan yang diresepkan oleh dokter, baik untuk dosis maupun lamanya.
       Sertakan pula informasi kepada dokter jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap antibiotika.
       Jangan berinisiatif menggunakan antibiotika atas keinginan sendiri karena penyakit yang diderita saat  
       ini belum tentu sama dengan penyakit sebelumnya.
  2. Jangan memberikan antibiotika kepada anggota keluarga lain meski kasusnya hampir sama. Antibiotika 
       itu belum tentu cocok bagi mereka. Apalagi kalau kemudian anggota keluarga tersebut memiliki alergi 
       yang bisa membahayakan diri mereka.
   3. Tidak meminta antibiotika kepada dokter. Ingat, antibiotika digunakan untuk infeksi bakteri dan bukan 
       infeksi virus. Jadi, kalau sakit flu yang disebabkan oleh virus, tidak perlu antibiotika.
   4.Ubah pola berpikir bahwa penyakit apa pun apabila tidak diberi antibiotika tidak bakal sembuh. Yang 
      benar adalah, antibiotika digunakan sesuai dengan bakteri yang menginfeksinya.

Antibiotik Kacaukan Perut AndaPeran antibiotik yang ampuh membunuh kuman tak selalu bermanfaat bagi manusia. Karena nyatanya, mengonsumsi antibiotik juga dapat mengganggu keseimbangan mikroba baik yang hidup di dalam usus sehingga menyebabkan kondisi kesehatan menjadi tak terduga.

Berdasarkan penelitian Les Dethlefsen dan David Relman dari Universitas Stanford California, AS, terhadap pasien yang diberi ciprofloxacin terungkap bahwa antibiotik yang dikonsumsi menekan semua populasi bakteri menguntungkan. Setidaknya setiap pasien memerlukan waktu berbulan-bulan untuk pulih.

Penelitian yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini mendukung kebijaksanaan yang mengatakan bahwa antibiotik dapat merusak bakteri baik yang hidup di tubuh. Penelitian ini juga mendukung pentingnya pengembangan produk probiotik, termasuk yoghurt yang mengandung bakteri hidup.

Dalam riset selama sekitar 10 bulan, para ahli melibatkan tiga perempuan relawan dengan memberikan tablet antibiotik. Pemberian obat dilakukan dalam dua fase dengan setiap fase berlangsung selama lima hari. Kemudian, para peneliti melakukan tes DNA pada sampel tinja dari para relawan untuk menentukan jenis mikroba yang hidup dalam usus.

"Hasilnya, efek ciprofloxacin pada mikrobiota usus sungguh pesat. Selama sepekan setelah pemberian antibiotik, mereka kembali pada kondisi awal, tapi tidak sepenuhnya lengkap," kata Dethlefsen.

Hasil studi lain juga mendukung gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan simbiosis dengan kuman. Mikroba dalam usus membantu mencerna makanan dan kuman baik dapat membuat jarak sehingga kuman buruk menjauh. "Distal usus manusia adalah salah satu ekosistem paling kompleks di planet ini," ungkap Dethlefsen.

Mematikan mikroba dapat memicu obesitas dan kemungkinan alergi. Riset lain juga menemukan bahwa Lactobacillus reuteri yang ditemukan dalam ASI dapat melindungi tubuh dari infeksi rotavirus.

Beberapa studi terbaru juga menemukan bakteri tertentu menyebabkan radang yang dapat memengaruhi nafsu makan serta kondisi peradangan usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis.

Menurut Dethlefsen, membunuh populasi bakteri dalam tubuh secara teratur dapat membantu mendorong penyebaran bakteri super yang resisten terhadap obat-obatan.

"Salah satu potensi percabangan yang dapat mengubah manusia adalah menambah gen yang kebal terhadap antibiotik. Setiap penggunaan antibiotik sama halnya seperti melempar dadu karena berpotensi memunculkan strain jahat yang mengganti bakteri baik," tandasnya.
 
Cepat atau Lambat, Bakteri Makin Kebal
Munculnya bakteri super yang resisten terhadap berbagai antibioitik paling ampuh sekalipun bukanlah hal baru dalam dunia kedokteran. Cepat atau lambat, bakteri memang akan menjadi resisten terhadap antibiotik (multiresisten) yang ada saat ini.

"Tidak ada antibiotik yang sensitif (mampu bertahan lama) dalam membunuh bakteri. Para ahli mikrobiologi menganggap, antibiotik bukan merupakan cara tepat untuk menangani penyakit. Karena apabila peneliti menemukkan antibiotik untuk membunuh bakteri, tahun-tahun berikutnya bakteri akan menjadi resisten terhadap antibiotik yang ada," kata Prof. Sam Soemarto dari PAMKI (Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia),  Kamis (12/08/10).

Menurut Prof. Sam, pada dasarnya bakteri menjadi resisten karena banyak cara. "Pertama, memisahkan dirinya secara genetik. Kemudian dia bisa tumbuh menjadi bakteri baru yang kebal karena adanya proses mutasi dan transfer gen antibiotik ke bakteri lain," jelas Prof. Sam.

Mutasi sendiri ialah terjadinya modifikasi protein, yaitu penurunan afinitas ikatan protein bakteri dengan antibiotik. Protein akan tahan terhadap kehilangan efisiensi karena mutasi tersebut.  Nantinya, mutasi genetis yang berbeda akan menghasilkan tipe resistensi yang berbeda juga.

"Beberapa mutasi mengakibatkan bakteri dapat menghasilkan zat kimia (enzim) yang cukup untuk menonaktifkan antibiotika. Hal yang sama terjadi pada bakteri super yang menghasilkan enzim NDM-1," kata Prof Sam.

Selain itu, menurut Prof, Sam Soemarto, resistensi juga terjadi karena bakteri mentransfer gen antibiotik ke bakteri lain.  Bakteri bisa mendapatkan gen-gen resisten terhadap antibiotika dari bakteri lain dengan beberapa cara. Dengan melakukan proses perkawinan sederhana yang disebut “konjugasi,” bakteri dapat mentransfer materi genetik, termasuk kode-kode genetik yang resisten terhadap antibiotika (ditemukan dalam plasmids and transposons) dari satu bakteri ke bakteri yang lainnya.

Bakteri yang mendapatkan gen-gen resisten, baik melalui mutasi spontan atau melalui pertukaran genetis dengan bakteri lainnya, memiliki kemampuan untuk melawan satu atau lebih jenis antibiotika. Karena bakteri dapat mengumpulkan beberapa sifat resistensi seiring dengan berjalannya waktu, mereka dapat menjadi resisten terhadap beberapa jenis antibiotika yang berbeda.

Penggunaan tidak tepat"Resisten dari bakteri itu sendiri bisa dipercepat oleh pola pemakaian antibiotik(resep) yang dipakai dakter tidak tepat," kata Prof Sam.

Menurut Prof. Sam, kebanyakan resep untuk penyakit tertentu seharusnya tidak perlu menggunakan antibiotik. Misalkan resep untuk flu, yang diketahui jelas bahawa penyakit flu berasal dari virus, sehingga tidak terpengaruh oleh pemberian antibiotik.

Selain itu Prof. Sam menjelaskan bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika juga disebabkan karena adanya penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang dapat dibeli tanpa resep dokter. "Pasien suka minum antibiotik tertentu padahal belum tentu obat itu mengobati penyakitnya, " kata Prof. Sam.

Padahal, penggunaan antibiotik yang sembarangan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan.

Di sisi lain, lanjut Prof. Sam, kebiasaan pasien tidak menghabiskan antibiotik yang diberikan dokter juga berpengaruh untuk meningkatkan resistensi dari bakteri tersebut.

Kuman yang Resistan Terus Bertambah

Saat ini kuman yang resistan terhadap obat terus bertambah jenisnya sehingga menyulitkan pengobatan dan biayanya pun semakin tinggi.

Demikian terungkap dalam seminar "Penggunaan Antimikroba secara Rasional" yang diselenggarakan Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Senin (21/6/2010) di Jakarta. Kegiatan itu terkait Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch pada 2-4 Juli 2010.

Pakar mikrobiologi klinik, Prof Agus Sjahrurachman, mengatakan, resistensi terhadap antimikroba adalah hal alami karena mikroba mengembangkan mekanisme mempertahankan diri. Namun, ulah manusia ikut mempercepat terjadinya resistensi dan penyebarannya. Kecepatan resistensi tidak seimbang dengan laju penemuan obat antimikroba baru. Akibatnya, penanganan penyakit semakin sulit dan biayanya pun meningkat.

Beberapa contoh kuman yang resistan antara lain Salmonella typhi yang resistan terhadap chloramphenico dan Streptococcus pneumonia terhadap makrolida baru. Mycobacterium tuberculosis yang tadinya resistan rendah terhadap INH tingkat resistensinya semakin tinggi. Bahkan, ada kasus kuman yang resistan terhadap banyak obat, contohnya Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis yang resistan pada Methicillin, Staphylococcus aureus resistan pada Vancomycin.

"Bakteri resistan itu justru banyak di rumah sakit, terutama di ruang rawat intensif, karena kegiatan pengobatan. Kuman-kuman resistan di rumah sakit itu bisa terbawa ke luar rumah sakit, kemudian menyebar," ujarnya.

Selain itu, penggunaan antibiotik sembarangan, putus obat, lemahnya pengendalian infeksi di rumah sakit, promosi obat-obatan yang berakibat penggunaan terlalu masif, dan ketidaktepatan penanganan pasien juga mendorong percepatan resistansi.

Ahli penyakit dalam dari FKUI, Prof Djoko Widodo, mengungkapkan, resistansi terhadap antibiotik menjadi masalah yang terus meningkat. Guna mengendalikan resistansi itu, setiap rumah sakit seharusnya mempunyai peta kuman dengan pemeriksaan. Dengan peta kuman, diketahui kuman yang telah resistan dan pengendaliannya. Ini termasuk penatalaksanaan oleh dokter terhadap pasien.

Dokter spesialis mikrobiologi klinik, Anis Karuniawati, mengatakan, dengan adanya data hasil pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas terhadap antibiotik yang akurat, dapat disusun suatu kebijakan pemilihan antibiotik sesuai pola mikroba dan pola resistensi di rumah sakit.

Sumber : IAI Online
Read more! - Antibiotik | Menimbulkan Alergi

Obat Antituberkulosis | Dapat menimbulkan TB-XDR

Penyalahgunaan Obat Antituberkulosis Memicu TB-XDR

Penyalahgunaan obat antituberkulosis berisiko menimbulkan resistensi obat, termasuk menimbulkan tuberkulosis extensively drug resistant (Tb-XDR). Tuberkulosis (Tb) merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Tb menyerang paru, tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan dalam temu media, Jumat (17/12), tuberkulosis multidrug resistant (Tb-MDR) menjadi perhatian Indonesia nomor delapan dari 27 negara dengan beban terbesar Tb-MDR. Perkiraan insidensi Tb-MDR di Indonesia sebesar 6.395 kasus per tahun. Tb-MDR umumnya merupakan Tb yang resisten terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Situasi tersebut dapat semakin parah jika terjadi kasus tuberkulosis extensively drug resistant (Tb-XDR) yang salah satunya dapat timbul akibat penyalahgunaan obat antituberkulosis lini dua. Saat ini, obat antituberkulosis lini dua yang beredar, seperti quinolon dan kanamisin, banyak disalahgunakan. 
Untuk penyakit lain 
Tjandra mencontohkan, quinolon banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit lain di luar tuberkulosis sehingga begitu penderita terkena tuberkulosis, kuman telah resisten. Kemungkinan lainnya ialah terjadi kesalahan dalam pembelian obat yang dapat memicu resistensi. Padahal, penanganan Tb-MDR berpuluh kali lipat lebih mahal, lama, dan efek samping obat lebih berat. Lebih bahaya lagi, belum ada obat yang direkomendasikan untuk membunuh kuman Tb-XDR-TB. Tjandra mengatakan, Tb-MDR merupakan kesalahan manusia. Resistensi obat sebetulnya dapat diobati dengan menerapkan strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemotherapy) atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek yang baik. Pengobatan juga harus lengkap dan harus memadai. Situasi tuberkulosis di Indonesia sendiri membaik. Indonesia saat ini berada di urutan kelima dari 22 negara dengan beban Tb terbanyak menurut Global Tuberculosis Control (2009). Sebelumnya, Indonesia menduduki urutan ketiga. Namun, penanganan tuberkulosis semakin berat dengan merebaknya HIV/AIDS dan Tb-MDR. 

Efek Samping Obat Tuberkulosis
Pada umumnya, penderita dapat merasakan manfaat obat tuberkulosis setelah dua minggu pengobatan. Gejala penyakit seperti demam dan batuk akan mulai berkurang, namun itu tak berarti obat dapat dihentikan. Cukup banyak penderita tuberkulosis yang tidak minum obat lagi karena merasa badannya sudah sehat. Tindakan ini tidak tepat karena kalau obat tuberkulosis tak diminum sampai selesai, yaitu enam bulan, maka sebenarnya tuberkulosis belumlah sembuh meski gejalanya sudah hilang. Gejala tersebut akan timbul kembali karena kuman tuberkulosisnya masih aktif.

Dokter umum mempunyai kemampuan untuk mendiagnosis dan mengobati tuberkulosis. Karena itu, keponakan Anda dapat melanjutkan pengobatan di puskesmas. Gangguan fungsi hati biasanya akan membaik kembali. Puskesmas dan dokter keluarga merupakan lini terdepan dalam mencegah dan mengobati tuberkulosis. Sedangkan dokter spesialis akan membantu jika ada kasus sulit dalam penatalaksanaan penyakit tersebut. Biasanya, dokter puskesmas atau dokter keluarga akan merujuk pasien jika memang dalam pengobatan menghadapi masalah yang di luar kemampuan mereka.

Angka keberhasilan terapi tuberkulosis amat tinggi sehingga masyarakat hendaknya dapat memanfaatkan pengobatan cuma-cuma yang disediakan pemerintah. Dengan jaminan obat akan diminum sampai selesai, hasil pengobatan dalam program pemerintah ini menunjukkan hasil yang baik. Karena itulah, keluarga perlu ikut menjaga agar obat tuberkulosis dapat diminum sampai selesai, yaitu sekitar enam bulan. 

Penularan
Pada penderita tuberkulosis paru yang belum diobati dapat ditemukan kuman tuberkulosis di dahaknya, pada masa ini penderita dapat menyebarkan kuman pada lingkungannya melalui udara. Karena itulah, jika penderita batuk, dia harus menutup mulutnya agar tak menyebarkan kuman ke udara. Namun jika penderita telah diobati, biasanya kumannya tak ditemukan lagi sehingga risiko menularkan pada orang lain berkurang. Jika ada anggota keluarga yang menderita tuberkulosis, langkah pertama adalah mengobatinya sehingga dia tak lagi jadi sumber penularan. Kedua adalah dengan mencegah penularan pada anggota keluarga dengan cara penderita menutup mulut pada waktu batuk. Anggota keluarga perlu meningkatkan kekebalan tubu dengan hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, tidur yang baik, dan menjaga ventilasi udara di rumah agar berjalan dengan baik.

Dalam menjalani terapi tuberkulosis, adakalanya dihadapi efek samping obat tuberkulosis. Efek samping ini jarang terjadi, jika terjadi dokter akan dapat mendeteksinya dan mengatasinya. Jadi, Anda tak perlu terlalu khawatir dengan efek samping yang dialami oleh keponakan Anda. Bantulah dokter puskesmas yang mengobatinya untuk menemukan obat yang dapat ditoleransi oleh hati keponakan Anda. Biasanya, obat akan dimulai lagi secara bertahap sampai ditemukan kombinasi obat yang cocok untuk penderita. Jadi jangan berhenti berobat jika ada efek samping obat. Makanan yang baik akan meningkatkan kekebalan tubuh dan membantu keberhasilan terapi. Namun untuk menjadikan kuman tuberkulosis tidak aktif, diperlukan obat tuberkulosis yang diminum secara teratur dan lamanya sesuai dengan lama terapi yang dianjurkan dokter.

Read more! - Obat Antituberkulosis | Dapat menimbulkan TB-XDR

IAI Badan POM DepKes RI WHO Indonesia FIP